Ketidak Seriusan Berharga Mahal


Pada tanggal 29 Januari 2026 dunia keuangan Indonesia dikejutkan dengan  IHSG yang turun hingga 8% ke level 7.654,66, sehingga memicu penghentian perdagangan saham secara otomatis. Akibatnya, kapitalisasi pasar diperkirakan menyusut sekitar Rp 1.200 triliun, setara sepertiga APBN 2026.

Peran MSCI dan Masalah Free Float

Penyebab utama adalah karena MSCI membekukan rebalancing indeks Indonesia. Hal itu dilakukan karena menurut Lembaga ini, free float terlalu kecil dan transparansi kepemilikan saham belum memadai. Free float adalah jumlah saham yang diperdagangkan di bursa dari jumlah total saham perusahaan tersebut. Dan jumlah yang kecil itu bisa saja dimiliki oleh orang-orang yang berkeinginan mengatur pergerakan harga saham, sehingga transparasi diperlukan agar tidak ada yang bermain-main dengan harga saham.

 

MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah penyedia indeks saham global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia. Indeks MSCI digunakan oleh ETF, reksa dana, dan dana pensiun global untuk menentukan alokasi investasi mereka. Keputusan MSCI sangat berpengaruh, jika suatu negara dibekukan atau diturunkan statusnya, arus modal asing cenderung keluar dan enggan kembali mengingat resiko yang tinggi.

 

Dampak besar ini terhadap perekonomian Indoneisa menyebabkan reaksi yang segera dari pemerintah. Menko Hartanto dan Menkeu Purbaya turun tangan berupaya menenangkan investor agar kepercayaan mereka tidak hilang terhadap ekonomi Indonesia. Bahkan terjadi pergantian pimpinan BEI dan OJK karena dianggap lalai mengantisipasi krisis.

 

Peraturan Soal Free Float

Faktanya, perubahan peraturan berkaitan dengan transparasi kepemilikan saham dan aturan free float sudah dipersiapkan oleh OJK dan BEI sejak awal 2025. Aturan ini mewajibkan setiap emiten memiliki minimal 15% saham beredar di publik (sebelumnya hanya 7,5%). Ada 327 emiten tercatat memiliki free float di bawah 15% dan harus menyesuaikan. Ada 38 emiten yang dibekukan perdagangannya karena hingga 31 Desember 2025 tidak bisa memenuhi aturan yang baru. Tapi entah kenapa hasilnya tidak segera ditindak lanjuti sehingga harus menunggu aksi dari MSCI yang menyebabkan harga saham jatuh dalam.

 

Sebetulnya Investor paham dan mengeluhkan adanya saham-saham gorengan ini bertahun-tahun yang lalu. Jauh sebelum tahun 2025, tetapi tidak ada tindakan apa pun. Mungkin baru Purbaya, seorang pejabat tinggi yang mengungkapkan secara terbuka adanya saham gorengan sejak awal beliau menjabat. 

 

Ciri Saham Gorengan

Tidak semua investor, terutama yang retail, yang paham membedakan mana saham gorengan dan mana saham yang layak dimiliki. Banyak investor yang tidak memperhatikan fundamental atau fakta keuangan saham yang diperdagangkan. Kebanyakan lebih mengikuti “perasaan” dengan mengikuti pergerakan harga, volume dan statistic lainnya atau disebut dengan Analisa Teknikal. Investor jangka panjang biasanya mengutamakan fundamental, sedangkan trader jangka pendek lebih banyak memakai teknikal.

 

Dengan analisa fundamental dari laporan keuangan perusahaan serta mengamati pergerakan harga, sebetulnya sudah bisa diperkirakan mana saham-saham yang dipermainkan atau digoreng oleh para pemain yang disebut bandar. Ciri-ciri saham gorengan tersebut adalah.

  • Free float atau jumlah saham yang diperdagankan dari keseluruhan itu kecil (<15%).
  • Likuiditas atau volume saham yang diperdagang kan tipis atau sedikit tetapi selisih harga penawaran dan permintaan lebar. Sahamnya susah diperjual belikan kalau bandarnya tidak masuk.
  • Volatilitas ekstrem atau harga naik/turun tajam tanpa berita fundamental.
  • Volume spike abnormal atau  lonjakan transaksi tiba-tiba.
  • Valuasi tidak rasional atau P/E sangat tinggi atau negatif, P/B >5 tanpa dasar kuat. P/E adalah harga saham dibandingkan pendapatan per saham, sedangkan P/B adalah harga saham dibagi dengan nilai buku. Di mana nilai buku adalah modal sendiri dibagi jumlah saham.

 

Jika pengetahuan dasar ini dikuasai oleh investor pasar modal Indonesia yang berjumlah 21 juta orang, tentu saja mereka akan terhindar dari kerugian yang tidak perlu tetapi disengaja oleh para pelaku saham gorengan. Sayangnya otoritas OJK dan BEI tidak serius mengatasi masalah ini. Padahal antusias investor saat ini sedang tinggi-tingginya, ada kenaikan 35% dari jumlah investor tahun sebelumnya. Mayoritas investor adalah ritel, yang paling rentan terhadap permainan saham gorengan karena mereka lebih banyak ikut-ikutan didorong kemudahan akses pasar modal menggunakan aplikasi digital.


Kerugian Investor Retail

Investor ritel sering masuk (membeli saham) di harga puncak lalu merugi saat bandar melepas saham. Setiap tahun, kerugian atau investasi yang hilang dari investor ritel diperkirakan 5 – 10% dari nilai portfolio setiap tahunnya. Jika nilai portfolio tersebut Rp. 3000T maka dana investasi yang hilang bisa Rp. 150 – Rp. 300T setiap tahunnya. Tinggal dikalikan berapa tahun saham gorangan dibiarkan terjadi.

Pemerintah harus menjaga agar investor tidak kehilangan kepercayaan terhadap BEI. Kalau pihak luar yang diwakili oleh MSCI tidak masuk, maka investor lokal lah yang akan menunjang bisnis atau pengadaan modal bagi ekonomi Indonesia. Jangan sampai investor lokal ini dikhianati juga. Bekerja lah dengan serius dan professional.

 

Penutup

Bagi investor jangan lah jera. Banyak saham perusahaan yang bagus-bagus juga di BEI. Ingat tujuan investasi yaitu membangun kekayaan jangka panjang, bukan sekadar mengejar capital gain (kenaikan harga) yang cepat. Pilih saham yang sehat: cek fundamental (ROE >15%, P/E wajar, dividen konsisten). Hindari saham gorengan: waspadai free float kecil, likuiditas tipis, valuasi tidak rasional. Dan terakhir, diversifikasi portofolio: jangan hanya di satu sektor, sebar risiko ke sektor perbankan, consumer goods, energi, dan infrastruktur.



Deni Priandono

 

Komentar