M0 dan Pertumbuhan Ekonomi: Membaca Perbandingan Era SBY dan Jokowi






1. Pernyataan Purbaya dan Realitas M0

Purbaya Yudhi Sadewa pernah menyatakan bahwa untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi, pemerintah perlu menaikkan jumlah uang beredar (M0). Logika ini berangkat dari teori kuantitas uang (Quantity Theory of Money), yang menyebutkan bahwa kenaikan jumlah uang beredar akan mendorong transaksi, konsumsi, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi.

Namun, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Setelah pemerintah memindahkan dana dari Bank Indonesia ke bank umum, likuiditas memang bertambah, tetapi permintaan kredit tidak meningkat signifikan. Bahkan Kurs rupiah malah melemah dengan kecurigaan likuiditas itu digunakan untuk spekulasi dollar. Hal ini sesuai dengan Liquidity Preference Theory ala Keynes: uang kartal (M0) hanya efektif bila masyarakat memiliki motif transaksi yang kuat. Jika kepercayaan dan permintaan kredit lemah, tambahan M0 hanya akan tertahan di perbankan tanpa menggerakkan ekonomi riil.

 

2. Mengapa Perbandingan Purbaya Tidak Tepat

Purbaya kerap membandingkan kondisi era SBY dengan era Jokowi untuk menunjukkan bahwa kenaikan M0 bisa mendorong pertumbuhan. Namun, perbandingan ini tidak apple to apple. Membandingkan M0 kedua era tanpa melihat konteks global adalah kesalahan fatal (Contextual Fallacy).

Era SBY (2004–2014) dan era Jokowi (2014–2024) memiliki fondasi ekonomi yang berbeda. SBY menikmati momentum global berupa booming komoditas, kredit longgar, dan peran swasta yang ekspansif. Jokowi menghadapi kondisi global sulit, perang dagang, dan harus mengandalkan pembangunan infrastruktur yang hasilnya baru terasa dalam jangka panjang.

Karena itu, sekadar menaikkan M0 di era sekarang tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan setinggi era SBY. Era SBY menikmati rata-rata suku bunga The Fed yang sangat rendah (0,25% pada 2009-2014), memicu arus modal masuk (capital inflow) yang masif. Menghadapi era pengetatan moneter global dengan suku bunga The Fed mencapai 3,75%-4.25% . Mencoba memompa M0 di dalam negeri saat likuiditas global ditarik justru berisiko melemahkan nilai tukar Rupiah.

 

3. Bedah Kedua Era: SBY dan Jokowi

 

a) Komoditas

Era SBY ditopang oleh harga komoditas yang meningkat pesat. Batubara, sawit, dan minyak sawit mentah menjadi motor ekspor. Lonjakan harga komoditas ini memberi devisa besar, memperkuat neraca perdagangan, dan mendorong pertumbuhan hingga rata-rata 6% per tahun.

Sebaliknya, era Jokowi tidak lagi menikmati bonanza komoditas. Harga global cenderung stabil atau menurun, sementara permintaan dunia tertekan oleh perang dagang dan perlambatan ekonomi global. Tanpa dorongan komoditas, pertumbuhan hanya bertahan di kisaran 5%.

 

b) Likuiditas M0 dan Inflasi

Di era SBY, likuiditas M0 meningkat karena ekspor besar. Uang masuk ke sistem perbankan dan beredar di masyarakat, tercermin dari inflasi yang relatif tinggi. Hal ini sesuai dengan Quantity Theory of Money: kenaikan M0 mendorong harga dan konsumsi. Kenaikan M0 didorong oleh Commodity Supercycle. Harga Batubara (sempat menyentuh US$ 190 di 2008) dan CPO yang tinggi membawa devisa langsung ke tangan eksportir dan rakyat.

Di era Jokowi, kenaikan M0 lebih banyak didorong oleh stimulus fiscal dan bansos untuk menjaga daya beli yang stagnan. Stimulus terbesar terjadi ketika menghadapi wabah Covid, sehingga M0 mengembalikan pertumbuhan ekonomi ke positif dari negative. Namun M0 tidak terus bertumbuh karena konsumsi rumah tangga tidak tumbuh signifikan dan orang berhati-hati dengan kredit seperti saat ini. Artinya, tambahan M0 tidak otomatis menggerakkan ekonomi bila tidak ada permintaan riil.

Inflasi yang tinggi di era SBY adalah bukti bahwa M0 "bekerja" dan berputar cepat di masyarakat (Velocity of Money tinggi). Sedangkan di era Jokowi Inflasi rendah (2–3,5%) bukan sekadar prestasi, melainkan indikasi permintaan riil yang mendingin.  Hingga sekarang tambahan M0 melalui bank umum hanya menjadi idle liquidity (uang menganggur) karena tidak ada tarikan permintaan dari sisi konsumsi.

 

c) ICOR dan Efisiensi Investasi

Era SBY ditandai oleh investasi yang efisien, terutama di Pulau Jawa yang infrastrukturnya sudah lengkap. Devisa banyak digunakan untuk membangun fasilitas ekspor, dengan ICOR rendah 4-5. Artinya, setiap tambahan modal cepat menghasilkan output baru.

Sebaliknya, era Jokowi fokus pada pembangunan infrastruktur dasar: jalan tol, pelabuhan, bandara, smelter, IKN, bendungan dan lain-lain. Investasi ini bersifat jangka panjang dengan ICOR tingg 6-7. ICOR yang tinggi di era Jokowi bukan semata inefisiensi, melainkan konsekuensi dari pembangunan jangka panjang (long-gestation period). Namun, dampaknya memang membuat pertumbuhan ekonomi "terkunci" di angka 5% karena modal terserap ke semen dan baja, bukan langsung ke konsumsi.

 

d) Peran Swasta dan Kredit

Era SBY diwarnai oleh swasta yang ekspansif. Kredit longgar, bunga relatif moderat, dan kepercayaan tinggi membuat investasi swasta tumbuh pesat. Financial Accelerator Theory menjelaskan bahwa akses kredit mempercepat pertumbuhan.

Era Jokowi hingga era Prabowo menghadapi kondisi berbeda. Kredit lebih hati-hati, perbankan menahan ekspansi karena risiko tinggi. Swasta tidak seagresif dulu, sehingga tambahan M0 tidak terserap optimal. Suku bunga tinggi menghimpit UMKM, yang sebenarnya merupakan penyerap tenaga kerja terbesar untuk menggerakkan konsumsi (M0 riil).

 

4. Penutup

Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui "rekayasa" M0—dengan sekadar memindahkan saldo pemerintah ke bank umum—adalah langkah yang mengabaikan realitas struktural. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan 6% di era SBY bukan hasil dari manipulasi likuiditas, melainkan "Uang Kaget" (Commodity Windfall) yang mengalir langsung ke kantong rakyat, menciptakan permintaan riil yang organik.

Sebaliknya, di era Jokowi, hilirisasi dan infrastruktur memang menciptakan nilai tambah jangka panjang, namun ia bersifat "Uang Macet" bagi konsumsi rumah tangga karena modalnya tertahan di siklus industri padat modal dan pembayaran utang alat berat.

Tanpa adanya kenaikan daya beli riil, tambahan M0 di perbankan hanyalah angka di atas kertas yang tidak akan pernah menjadi energi pertumbuhan. Jika pemerintah ingin M0 berputar kembali, kuncinya bukan pada kebijakan "pindah buku" anggaran, melainkan pada penguatan upah sektor riil dan efisiensi investasi (penurunan ICOR). Hanya dengan begitu, uang akan mengalir karena dibutuhkan oleh transaksi masyarakat, bukan karena dipaksa masuk ke sistem perbankan yang sedang lesu.

 


Deni Priandono

Komentar